Filosofi Makna Feng Shui

Posted on

Dalam filosofi Cina, fengshui bukan sekedar bertujuan untuk sukses dalam hidup, karir yang menjulang, memiliki kekayaan, dan lain sebagainya. Keliru jika fengshui sekedar dipahami sebagai cara mengundang rejeki atau istilahnya “money attractor”. Dan sangat disayangkan sekali justru buku-buku populerlah yang menekankan tujuan materi seperti ini tanpa memahami seluk beluk pengembangan diri yang lebih mendasar. Jika kita mempelajari spiritualitas China atau spiritualitas Timur lainnya, kekayaan materi hanya sarana untuk mencapai tujuan. Banyak pepatah China yang justru menekankan hal-hal mendasar.

Berikut adalah beberapa contoh ungkapan populer China :

“Bisa mencapai keberhasilan, pada suatu saat juga bisa rela melepaskannya.” (di de qu, fang de xia)

“Bahagia dan kayalah orang yang tahu cukup.” (zi zu chang le fu)

“Memelihara kesehatan harus dimulai dari memupuk kebajikan.” (yang sheng bi xian yang de)

“Tidak pernah melakukan hal yang melanggar hati nurani, tengah malam ada yang mengetuk pintu tidaklah kaget.“ (bu zuo gui xin si, ban ye san ken qiao men xin bu jing)

bk_yinPendekatan Timur selalu menghubungkan kesehatan fisik dengan kesehatan pikiran. Keberhasilan dalam hidup lebih pada upaya kebajikan untuk memiliki fungsi yang baik, yang sebagai mestinya sehingga tidak merugikan orang lain dan diri sendiri. Orang terpelajar pada zaman Confusius dididik dengan cara seperti ini. Pengabdian terhadap negara dan masyarakat adalah kebaikan dan dijadikan kewibawaan yang menjadi bagian dari orang-orang terpelajar. Jadi kewibawaan bukanlah kekayaan atau gaya hidup yang artifisial lainnya.

TIGA PILAR Dalam tradisi China, ada 3 hal yang mempengaruhi hidup kita :

Yang pertama adalah faktor langit. Ini yang disebut dengan kehendak alam, Tuhan, nasib, atau takdir. Spiritualitas India menyebutnya sebagai karma.

Yang kedua adalah faktor bumi. Inilah yang menjadi perhatian dalam fengshui. Lingkungan turut menkondisikan kita. Perlu memastikan memiliki qi positif sehingga tempat tinggal atau lingkungan menjadi kondusif dan produktif.

Yang ketiga adalah faktor diri. Manusia memiliki kehendak bebas. Untuk itu perlulah manusia berjuang, perlu kerja keras, perlu belajar.

Namun kerja keras tidak menjamin keberhasilan jika tidak ada faktor langit. Bisa jadi orang yang pandai, namun justru tidak mendapat promosi kendatipun perilakunya sebenarnya baik. Ada faktor keberuntungan yang tidak dipenuhi. Untuk itulah dalam tradisi China ada istilah hoki, good luck, keberuntungan.

Ada pepatah yang mengatakan, “Orang pintar kalah dengan orang beruntung.” Faktor lingkungan yang baik, misalkan terlahir dari keluarga yang sebenarnya berkecukupan. Tapi karena tidak mau belajar, bisa jadi tidak bisa sukses juga. Intinya 3 hal itu memiliki titik optimasi tertentu yang membuat seseorang menjadi seperti sekarang ini.

Tujuan hidup yang sering menjadi arah bagi faktor diri tidaklah selalu kehidupan duniawi seperti menjadi sukses, memiliki kekayaan berlimpah, dan lain sebagainya. Perkembangan spiritual seseorang juga termasuk faktor diri. Sering juga ada orang yang mendapat musibah. Namun karena faktor dirinya baik dan memiliki spiritualitas yang tinggi, dia bisa bertahan dalam hidup, bahkan bisa menikmati hidup dengan bahagia dan damai.

Dua faktor yang pertama yaitu faktor langit dan lingkungan merupakan kondisi. Namun faktor ketiga bisa tampil dengan kemampuan diri untuk harmoni, untuk bisa beradaptasi dengan kondisi tersebut bahkan dalam kondisi yang buruk. Kembali pada fengshui. Disebutkan bahwa ketika qi (energi) mengalir bebas di ruangan, maka kesehatan dan vitalitas akan melimpah. Prinsip dasar fengshui sebenarnya sederhana, yaitu menangkap qi positif selama mungkin dalam ruangan, dalam hal ini dirumah, ditempat kediaman kita, di lingkungan kita sehingga kita mendapat kondisi positif yang baik. Faktor diri ada batasnya. Misalkan kesehatan tubuh. Jika kita tiduran di lantai dalam waktu lama, maka qi terlalu dingin dan mulai mengganggu kesehatan kita. Atau dalam ruangan tidur memiliki posisi yang kurang tepat sehingga ada qi negatif masuk, maka akan mengganggu kesehatan dan keadaan pikiran kita.

Satu dua kali mengalami gangguan mungkin tidak terasa buruk, namun lama kelamaan kiat tidak bisa melawan hukum alam. Dalam kiat yang lebih praktis; banyak sekali kaidah fengshui yang melibatkan persepsi. Misalkan: mengatakan angka empat, yang secara vokal mirip dengan “shi” yang berarti mati. Hal ini lebih merupakan faktor sugesti dan persepsi saja. Karena sudah menjadi bagian dari kebudayaan, maka ada keadaan bawah sadar kolektif yang menerima kaidah. Seringkali mereka yang keturunan China menuruti kaidah tersebut. Artinya, selain fengshui berhubungan dengan manajemen qi (energi), juga berhubungan dengan sugestivitas. Misalkan ada hiasan yang bertuliskan aksara “fuk” yang berarti keberuntungan. Itu mengingatkan untuk re-programming bahwa diri kita ini beruntung. Ini jelas lebih baik dari pada seseorang bangun pagi dan sudah berpikiran buruk dengan merasa diri tidak mampu, selalu sial, dan mental blok lainnya. Jika tiap hari diawali munculnya qi negatif dalam pikiran, maka tentu pekerjaan dan aktivitas seharian berikutnya menjadi tidak maksimal.

DELAPAN SEKTOR Yang paling penting upaya sugestivitas jangan hanya yang berhubungan dengan hoki, sukses, memiliki kekayaan, tapi juga harus seimbang mencakup semua aspek kehidupan.

Sebagai orang awam, kita butuh 8 sektor.

1> Kesejahteraan (hsun)

2> Penerimaan sosial (li)

3> Relasi (kun)

4> Kreativitas (dui)

5> Mentor atau pendukung (chyan)

6> Karir / prestasi (kan)

7> Pendidikan (ken)

8> Keluarga (chen)

Saya sebut sebagai orang awam, karena kita bukan biarawan atau mereka yang tidak melibatkan diri dalam kesibukan mencari nafkah. Sebagai orang awam jelas butuh keseimbangan dalam 8 sektor tersebut. Dalam analisis fengshui biasanya seseorang diminta untuk merenung sebentar. Dari 8 sektor tersebut, jika diberi skala 1 hingga 10 dimana 10 adalah nilai yang paling besar atau yang paling sempurna dan 1 adalah yang paling kecil atau rendah. Misalkan seseorang menilai dirinya sendiri. 1> Kesejahteraan (hsun), bernilai 6 2> Penerimaan sosial (li) , bernilai 6 3> Relasi (kun) , bernilai 8 4> Kreativitas (dui) , bernilai 5 5> Mentor atau pendukung (chyan) , bernilai 7 6> Karir / prestasi (kan) , bernilai 4 7> Pendidikan (ken), bernilai 6 8> Keluarga (chen) , bernilai 10 Artinya orang ini memiliki kesejahteraan yang biasa.

Penerimaan sosial juga biasa. Dalam pekerjaan dia tidak terkenal, dan tidak menonjol juga. Relasi cukup baik. Bisa menjaga hubungan baik dengan teman-teman dan rekan kerja. Sebenarnya orang ini sudah punya attitude yang baik. Dia juga punya mentor, punya pendukung, punya atasan yang baik. Keluarga di rumah juga baik-baik saja. Artinya masalah keluarga tidak menjadi masalah yang berarti. Hanya saja masalahnya kesejahteraan yang pas-pasan. Pendidikan atau upaya belajar memang biasa. Dia bukan seorang pembelajar yang hebat. Itu yang membuat kreativitas kurang. Kurang tampil dan tidak mau unjuk prestasi. Karirnya biasa-biasa saja walaupun kehidupan berkeluarga baik-baik saja, namun sebenarnya dia butuh kesejahteraan lebih untuk memakmurkan keluarga.

Dari sini terlihat bahwa yang perlu menjadi perhatian dan perlu disugestikan agar bertambah dan meningkat nilainya adalah pendidikan (ken), kreativitas (dui), dan prestasi (kan). Jika ditingkatkan maka kesejahteraan (hsun) dan penerimaan sosial (li) akan meningkat.

Sumber : indoarchitect.wordpress.com

Gambar : fengshui-republic.com